Just another WordPress.com weblog

resensi film RED

Diangkat dari novel karya Warren Ellis dan Cully Hamner

Frank (Bruce Willis), Joe (Morgan Freeman), Marvin (John Malkovich) dan Victoria (Helen Mirren), adalah top agen CIA – tetapi rahasia yang mereka ketahui justru membuat mereka menjadi target utama CIA. Saat ini sebuah kasus pembunuhan mengharuskan mereka kembali bekerjasama dan menggunakan semua pengalaman untuk mengejar target dan dapat bertahan hidup. Agar dapat menghentikan aksi pembunuhan tersebut, tim ini melakukan misi lintas negara yang mustahil agar dapat masuk ke markas rahasia CIA, dimana mereka menemukan salah satu konspirasi terbesar dan tidak pernah terungkap dalam sejarah pemerintahan

Membayangkan The Losers yang populer beberapa dekade lalu, Anda pasti dapat menebak kisah para pensiunan CIA yang bekerja sama dalam satu tim untuk melakukan tugas terakhir. Jadi jika Anda telah menyaksikan adaptasi komik lainnya baru-baru ini, maka Anda akan mengerti jika tontonan ini menarik namun tidak cukup spektakuler.

Frank Moses (Bruce Willis) seorang pria kesepian, melepas masa pensiunnya dengan alasan untuk menyelamatkan perempuan yang disayanginya Sarah (Mary-Louise Parker). Hidup dengan tenang, sederhana, semacam hidup ‘menarik-diri’ dari masyarakat, hanya satu hal yang dapat mendobrak ‘persembunyiannya’ yang nyaman dari masyarakat luas: tim pembunuh berteknologi tinggi menyerbu rumahnya. Dengan cepat dia mengusirnya tanpa banyak keributan.

Berkeliling mencari informasi mengapa dirinya menjadi sasaran, Moses menculik Sarah (untuk keselamatan dirinya!) dan memutuskan mengunjungi kawan lamanya Joe (Morgan Freeman – tidak banyak yang dilakukan), Marvin (John Malkovich – dalam bentuk orang bodoh gila), Ivan (beraksen mirip Brian Cox yang cerdik) dan Victoria (Helen Mirren – si putri cantik yang mengantongi pistol.). Menemukan ada masalah dan korupsi yang merajalela terkait dengan pekerjaan lamanya, Frank tidak ada pilihan lain selain maju dan menyelesaikan masalah yang melibatkan dirinya.

film ini Mencoba meniru Ocean’s 11, Red menyuguhkan film yang menyenangkan, namun baik adegan penuh aksi maupun berkelas tidak membuatnya berhasil menirunya. Bahkan, sebagai pertimbangan, tampaknya lebih adil jika Red lebih condong ke Ocean’s 12. Lebih menonjolkan aksi gaya daripada substansi cerita, tidak banyak yang diceritakan dalam film ini, hanya segelintir aksi dari sekelompok pemain setengah baya yang melakukan persinggahan di sini dan ledakan di sana. Yang biasanya cukup untuk pikiran saya yang sederhana dan butuh hal menyenangkan. Tapi terlepas dari jam tangan yang cukup keren, berkilau dan bergaya,

film bergenre action-comedy ini aslinya komik (graphic novel). Makanya di awal film ada credit title DC-Comics selaku pemegang hak cipta.

RED sendiri adalah singkatan dari Retired-Extremely Dangerous. Ini tentu saja akronim rekaan saja, untuk menggambarkan para agen CIA yang sudah pensiun, tapi karena pengalaman dan keahliannya masih dianggap berbahaya. Saking berbahayanya malah mereka menjadi sasaran pembunuhan dari agensi yang pernah dibelanya. Agen yang terutama dilabeli RED adalah Frank Moses, diperankan dengan apik oleh aktor kharismatik Bruce Willis.

alur cerita :

Di awal film, Moses yang sudah pensiun dengan iseng dan nakal terus-menerus menelepon petugas pembayaran pensiunnya, seorang wanita bernama Sarah Ross (Mary Louise Parker). Dengan alasan cek pensiunnya belum datang, padahal Moses dengan sengaja merobeknya hanya agar ada alasan menelepon Sarah.

Tiba-tiba, rumahnya didatangi tim special-ops berpakaian pasukan khusus serba hitam saat ia sedang ke kamar mandi. Mereka ditugasi membunuh Moses. Namun alih-alih berhasil, justru semua anggota tim itu justru berhasil dibunuh Moses. Saat inilah, bagi yang belum membaca resensi film seperti saya, akan mulai heran, kok bisa ‘orang biasa’ seperti Moses membunuh pasukan khusus.

Moses lalu langsung menuju Kansas, kota tempat Sarah berada. Ia mengajak gadis itu pergi, karena ia telah 22 kali meneleponnya dan menurut Moses itu pasti diketahui agensi dan membuat keselamatan Sarah terancam. Saat Sarah malah marah dan melemparinya, Moses memutuskan menculiknya. Ia lalu menuju New Orleans, untuk menemui mentornya yang bijak –dan tentu juga sudah pensiun-, yaitu Joe Matheson (Morgan Freeman). Joe ini juga kebingungan menghabiskan masa pensiun, padahal ia sudah jadi agen sejak Perang Vietnam! Malah ia sengaja merusak TV agar mendapatkan bantuan dari petugas perawat panti jompo tempat tinggal, semata demi bisa duduk di kursi melihat perawat itu membelakanginya dan menikmati pantatnya. Si perawat tak marah dan hanya geleng-geleng kepala karena menganggap itu “kenakalan kakek tua” saja. Maka, saat Moses datang, Joe justru senang dan setuju membantunya.

Tapi pertemuan mereka terlacak karena Sarah berhasil meloloskan diri dari sekapan Moses di motel, saat Moses sedang menemui Joe di panti jompo. Moses berhasil melumpuhkan agen CIA yang menyamar sebagai polisi dan berniat menahan Sarah, lantas dengan menggunakan mobil polisi mereka kabur dan dikejar-kejar agen-agen lain di kawasan French Quarter. Tentu saja mereka berhasil lolos dengan cerdik. Moses menggunakan radio polisi memberitakan ada polisi yang tertembak dan justru melaporkan mobil agen CIA yang mengejarnya sebagai tersangka. Maka, jadilah si agen bernama William Cooper (Karl Urban) terjebak karena dikepung polisi.

Cooper lantas bertanya pada atasannya, siapa sebenarnya Moses. Karena data yang diberikan padanya sebelumnya mengatakan Moses hanyalah seorang analis tanpa pengalaman lapangan. Atasannya yang mengatakan bahwa operasi memburu Moses adalah resmi operasi CIA. Sang atasan lantas merujuknya ke ruang data yang sangat rahasia dan berlapis baja tebal, terletak di lantai bawah tanah Markas Besar CIA di Langley, Virginia. Di ruangan itu ia disambut petugas arsip yang sudah tua, yang selain memberikan data dalam map bertuliskan “Ultra Top Secret” yang jauh lebih tebal daripada yang pernah diberikan atasan Cooper, juga menerangkan dengan bangga bahwa Moses adalah agen lapangan (NOC) CIA terbaik yang pernah ada. Dari si penjaga arsip ini pula didapat arti akronim “RED”.

Adegan-adegan selanjutnya berkisar pada upaya Moses ‘ngelumpuke balung pisah’-mengumpulkan anggota tim yang terpencar. Mereka bertiga –bersama Sarah yang diculik namun mulai menyukai petualangan- menuju ke Pensacola, Florida untuk menemui seorang mantan agen lain yang dihinggapi penyakit paranoid, Marvin (John Malkovich). Setelah berhasil mengajak Marvin bergabung, mereka menemui Victoria (Hellen Miller) di Chesapeake, Maryland dengan jalan darat melalui Mobile, Alabama.

Mereka berlima kemudian menyadari bahwa semua yang ada dalam tim masuk daftar reporter New York Times yang juga sudah tewas terbunuh. Dari tangan ibu sang reporter, Sarah yang berpura-pura sebagai rekannya berhasil mendapatkan sebuah nomor, yang ternyata nomor buku di perpustakaan New York University yang besar. Di dalam buku itu mereka berhasil mendapatkan daftar lain yang kemudian mereka cocokkan. Ternyata ada satu nama yang belum mati selain mereka berempat, yaitu Gabriel Singer. Mereka lantas menuju Chicago dan berusaha menemui Singer. Singer mengungkapkan bahwa mereka menjadi sasaran karena semuanya bertugas di Guatemala dan mengetahui aksi jahat di sebuah desa di mana pasukan A.S. membantai seluruh warga desa yang sipil dan tak berdosa. Perintah itu ternyata datang dari seorang pimpinan pasukan yang saat itu menjadi Wakil Presiden A.S. Saat itulah Marvin menyadari ada helikopter bernomor sama yang sudah mengintai mereka sejak masih di rumah Marvin di Pensacola. Dan ternyata benar, Gabriel tewas ditembaki dari helikopter itu.

Moses lalu menemui seorang mantan agen KGB Uni Sovyet yang kini sudah menjadi atase pertahanan Rusia di A.S. Ia dengan nekat memasuki Kedutaan Besar Rusia dan ditangkap untuk dihadapkan kepada Ivan Simanov (Brian Cox). Ivan setuju membantu dengan syarat yang baru akan kita temui di akhir film. Dari Ivan inilah justru Moses mendapatkan bantuan untuk memasuki Markas Besar CIA di Langley, Virginia. Sangat ironis, mantan agen CIA menyusup ke bekas markasnya sendiri dengan bantuan mantan musuhnya!

Samaran Moses adalah seorang jenderal bintang satu Angkatan Darat, yang ditemani seorang ahli nuklir yang diperankan Sarah. Mereka pun menemui petugas arsip tua yang gembira menyambut Moses kembali. Ia selain memberikan data tentang Guatemala, juga memberikan informasi bahwa seorang agen muda –Cooper- sehari sebelumnya telah datang meminta data tentang Moses.

Setelah berhasil mendapatkan data, mereka sadar Alexander Dunning (Richard Dreyfuss) tidak termasuk dalam daftar yang akan dibunuh, setelah mencocokkan data yang dipublikasikan didapatkan oleh reporter yang tewas dan data yang diselipkan dalam buku. Ia adalah seorang CEO dari perusahaan produsen alat pertahanan (defense contractor). Maka, mereka pun dengan menyamar menemui Dunning. Joe menyamar sebagai jenderal dari negara Afrika yang diembargo PBB dan berniat membeli senjata gelap, sementara Moses dan Marvin sebagai pengawalnya, Victoria dan Sarah sebagai sniper di luar yang mengawasi keadaan. Dari Dunning mereka mengetahui banyak detail baru, dimana ia mengakui memang dilindungi oleh pemerintah A.S. Saat mereka sedang menginterogasi Dunning, informasi datang dari Victoria via Handy Talky, ternyata villa tempat pertemuan mereka ternyata sudah diawasi FBI dan CIA. Mereka dikepung, sehingga saat mereka hendak kabur harus ada pengalihan. Dan pengalihannya adalah Joe yang berganti pakaian seperti Moses keluar lewat pintu depan sementara yang lain lewat samping dan lari ke hutan. Sayangnya, untuk itu Joe harus mengorbankan nyawanya karena sengaja ditembak Victoria. Ivan kemudian menyelamatkan mereka, meski sayangnya Sarah tertangkap karena tergelincir di salju.

Moses dan timnya kemudian memutuskan menyerbu dan menculik Wakil Presiden A.S.. Di sini adegan tembak-menembak antara tim RED dengan CIA dan Secret Service (SS) berlangsung seru dan lucu sekaligus. Konflik terus-terjadi hingga akhir film, karena Moses yang berhasil menculik Wakil Presiden meminta pertukaran dengan Sarah yang ditangkap CIA. Ending-nya seru dan mengejutkan, meski agak klise. Jelas dong, ini film “jagoan pasti menang” kok.

Adegan tembak-menembaknya juga menampilkan aneka senjata yang keren. Tidak cuma senapan serbu AR-15 yang dipergunakan special-ops CIA,bahkan senapan rantai (chain gun) berkaliber .50 pun muncul! Uniknya, senapan yang bisa membolongi tank ini dipergunakan oleh nenek tua Victoria! Bahkan Marvin mengeluarkan senapan pelontar granat –tampaknya sejenis M-4- dari dalam boneka babi warna pink lucu yang dibawanya melewati sensor bandara.

Meski begitu, jelas ada kelemahan. Misalnya saja adegan saat Ivan meledakkan mobil limousine dinas Wakil Presiden A.S. yang kedua, karena yang pertama sudah diberondong Victoria dengan senapan rantai-nya. Saya bingung, kapan pasang bomnya ya? Juga saat Victoria ternyata mengikatkan senapan rantainya dengan tali agar terus menembak, sementara ia sendiri pergi, jelas mustahil di dunia nyata. Kenapa? Karena dengan kalibernya yang besar, mustinya mobil yang ditembaki -dimana di baliknya Wakil Presiden dan pengawal SS-nya berlindung- sudah meledak. Tapi ini tidak.

wah seru banget deh ini film’a, pada nonton ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s